Laporan Penjurian MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2025: Merayakan Identitas dan Keberagaman

Laporan Penjurian MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2025

MR.D.I.Y. Indonesia bekerja sama dengan IndoArtNow menyelenggarakan MR.D.I.Y. Art Competition 2025, kompetisi seni rupa berskala nasional untuk dua kategori: pelajar dan umum. MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2025 adalah kompetisi perdana yang diselenggarakan MR.D.I.Y. Kompetisi ini bertujuan mendukung semangat berkarya generasi muda sekaligus membuka ruang dialog visual mengenai tema besar: Identitas dan Keberagaman.

Dewan juri terdiri dari kolektor seni Abigail Hakim, kurator Mitha Budhyarto, dan perupa R.E. Hartanto, bersama Edwin Cheah selaku Direktur Utama MR.D.I.Y. Indonesia. Dewan juri menyeleksi karya terbaik lebih dari 1.600 peserta dengan lebih dari 2.300 karya yang diterima dalam kurun waktu kurang dari dua bulan. Penjurian berlangsung dalam tiga tahap dengan mempertimbangkan empat kriteria utama: relevansi dengan tema, konsep dan narasi, kreativitas, serta aspek teknis dan visual. Seleksi awal dilakukan secara digital untuk memilih 50 karya dari masing-masing kategori. Tahap kedua menyaring menjadi 20 finalis dari kedua kategori yang karyanya akan dipamerkan di MR.D.I.Y. Lotte Mall Jakarta.

Setelah karya fisik diterima, penjurian tahap akhir dilakukan secara langsung untuk menentukan para pemenang. Selain itu, dewan juri juga meninjau portofolio dan rekam jejak finalis untuk memperkuat pertimbangan. Hasilnya, kualitas finalis di kedua kategori sangat seimbang. Tiga finalis kategori pelajar—Diandra Lamees, Taufik Hidayat, dan Prakadetto Alansa—menunjukkan mutu gagasan dan ketajaman teknis yang setara dengan finalis kategori publik seperti Aidi Yupri,
Andita Purnama, dan Dona Arisutta. Dalam hal ini, kami melihat bahwa usia tidak menjadi penghalang, bahkan sebaliknya, karya mereka memperlihatkan kedewasaan dan intensitas penciptaan yang patut diapresiasi. Para pemenang menafsirkan tema secara personal dan reflektif. Aidi Yupri, Diandra, dan Prakadetto mengeksplorasi identitas dalam kaitannya dengan sejarah, tubuh, dan budaya.

Andita dan Taufik menyuguhkan narasi kuat tentang ingatan dan memori personal, sementara Dona menyoroti keberagaman melalui pendekatan simbolik yang berani. Kekuatan visual dari karya-karya finalis sangat terasa. Namun, dewan juri melihat terdapat tantangan yang dapat menjadi ruang pengembangan yakni penyusunan pernyataan artistik yang singkat, padat, dan terarah. Sebagian peserta, termasuk beberapa finalis dan pemenang, masih dalam proses membiasakan diri mengartikulasikan gagasan secara efektif. Dewan juri meyakini bahwa dengan semangat dan latihan berkelanjutan, kemampuan ini akan semakin terasah. Pernyataan konseptual yang jernih tidak hanya memperkuat posisi
karya, tetapi juga memperluas jangkauan pemahaman publik terhadap pesan yang ingin disampaikan.

Dari sisi teknis, para finalis menggunakan pendekatan yang beragam. Ada yang menggunakan media konvensional seperti lukisan dan gambar tangan, ada pula yang mengeksplorasi media campuran dan teknik eksperimental. Karya Andita dan Diandra, misalnya, mencerminkan riset dan penguasaan teknik yang mendalam. Presentasi visual mereka pun mencuri perhatian lewat detail dan kepekaan artistik.

Kompetisi ini membuka ruang bagi media dua dimensi, tiga dimensi, hingga digital. Ini menjadikan pilihan teknis  dan tematik dari para finalis sangat beragam. Dewan juri mencatat beberapa karya yang tampil menonjol karena keunikan pendekatan dan keberanian dalam bereksperimen. Penjurian secara langsung memberi pengalaman berbeda. Melihat karya secara fisik memungkinkan kami merasakan kekuatan visual yang tak tergantikan oleh dokumen digital.

Seperti halnya pertunjukan seni lainnya, seni rupa juga perlu dihadirkan secara langsung agar dampaknya maksimal. Di tahap inilah, kualitas penyajian menjadi faktor penting yang turut memengaruhi keputusan akhir. Setelah mempertimbangkan semua aspek—ide, teknik, narasi, dan kedalaman tema—dewan juri memilih enam pemenang: tiga dari kategori pelajar dan tiga dari kategori publik. Mereka menunjukkan kesungguhan, konsistensi, dan keunikan dalam pendekatan artistik masing-masing. Karya-karya mereka menjadi yang paling mencolok dan berkesan
dalam kompetisi ini.

Bagi dewan juri, menjadi seniman adalah panggilan, tanggung jawab, sekaligus hak istimewa. Banyak orang menjalani pekerjaan yang tak mereka cintai, tapi para seniman memiliki kebebasan untuk mencipta dan menemukan makna lewat karya. MR.D.I.Y. dan dewan juri berharap penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan sekaligus pengingat atas kehormatan dan komitmen itu.

Selamat kepada para pemenang. Terima kasih kepada seluruh peserta. Semoga semangat berkarya ini terus berkembang dan memperkuat ekosistem seni rupa Indonesia.

Padalarang, 31 Juli 2025

Dewan Juri MR.D.I.Y. Art Competition 2025