Laporan Penjurian MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026


Saat ini, isu sosial tidak lagi hanya dianggap sebagai sesuatu yang berjarak dari kita, untuk sekadar diamati dan dikomentari, melainkan ruang tempat kita hidup. Karena itu, cara kita berbicara tentang ketahanan hidup pun perlu berubah. Ketahanan tidak lagi terbatas tentang soal siapa yang berhasil menyelesaikan berbagai isu dalam kehidupan, melainkan bagaimana kita  belajar hidup di dalamnya, tanpa berpura-pura bahwa isu tersebut akan segera berakhir.

Melalui tema Strength & Resilience, kami tidak melihat ketahanan sebagai sebuah garis akhir yang harus dicapai. Sebaliknya, ketahanan hadir sebagai sebuah proses yang terus-menerus dinegosiasikan, oleh tubuh-tubuh yang lelah, tetapi tetap hadir, oleh individu dan komunitas yang terus mencari cara untuk bertahan, beradaptasi, dan melangkah di tengah ketidakpastian.

Tahun ini, lebih dari 1.500 karya dari 32 provinsi di Indonesia hadir membawa beragam pengalaman, pertanyaan, dan cara pandang terhadap tema Strength & Resilience. Proses penjurian ini menjadi ruang untuk kami melihat, membaca, dan memaknai berbagai perspektif dari karya-karya peserta yang menghadirkan interpretasi kuat terhadap ketahanan dalam kehidupan hari ini.

Dari ribuan karya yang masuk, kami menangkap sesuatu yang hadir berulang kali, bukan sekadar sebagai tema, melainkan sebagai pengalaman yang dirasakan bersama yang hadir di banyak tubuh dan ruang yang berbeda. Tentang napas yang terus dihirup di udara yang sudah lama tak lagi bersih, hari-hari yang disusun di atas ketidakpastian ekonomi yang tidak kunjung selesai, dan limbah plastik yang bukan lagi sekadar simbol tentang masa depan yang mengkhawatirkan, melainkan lanskap yang sudah menetap di halaman rumah kita sendiri.

Karya-karya ini hadir tidak untuk berusaha menjawab. Mereka lebih memilih untuk tetap tinggal di dalam pertanyaan, dan justru dari situlah dewan juri menemukan kejujuran yang sulit untuk dipalsukan.

Dua karya pertama menunjukkan ketahanan sebagai kerja mengolah limbah menjadi makna baru. Ari Bayu Aji meraih Grand Prize Kategori Professional melalui The Storms that Unified Us, bagian dari proyek Weaving the Ocean. Karya ini berangkat dari tali plastik yang ditemukan di antara akar bakau di Sanur, kemudian diolah menjadi benang dan ditenun bersama lebih dari dua puluh lima (25) perempuan yang kehilangan mata pencaharian saat pandemi. Sejalan dengannya, Haidar Ammar meraih Judge's Award Kategori Umum melalui Holding the Self Together, sebuah karya gambar dengan tinta di atas limbah plastik yang menampilkan penunggang kuda, satwa, dan bunga saling bertumpang tindih. Bagi dewan juri, kedua karya ini menegaskan bahwa kekuatan lahir dari keberanian mentransformasikan sesuatu yang tersisa yang dianggap tidak berguna. Dalam satu karya, proses tersebut dilakukan secara kolektif dan membuka ruang berdaya ekonomi, serta satu karya lainnya hadir secara personal dan simbolik.

Ketahanan juga hadir dalam bentuk kerja dan tubuh yang sering kali luput dari perhatian. Dua karya berikutnya adalah Veronica Liana meraih Grand Prize Kategori Umum melalui Rupa Tan Matra #3, sebuah instalasi mesin jahit dari kain kanvas putih yang tumbuh dari pengalamannya sebagai istri dan ibu muda yang kembali mempertanyakan ulang praktik artistiknya sendiri. Berdekatan tema, Muhammad Ragib Noer Khasyi meraih Grand Prize Kategori Pelajar lewat Yang Tersisa Sepulang Kerja (1), karya cetak ini menggunakan debu semen yang menempel dari seragam pekerja pabrik sebagai satu-satunya medium pewarna. Melalui kedua karya ini, dewan juri membaca keduanya sebagai pernyataan tentang kerja-kerja yang selama ini luput dari pengakuan, kerja domestik yang repetitif dan sunyi, serta risiko kesehatan yang perlahan menempel diam-diam pada tubuh pekerja dan terbawa pulang setiap hari.

Tiga karya terakhir memaknai ketahanan sebagai sesuatu yang relasional, kolektif dan universal, bukan milik satu individu. Angela Sunaryo meraih President Director's Award Kategori Umum lewat XELOTEXAN, sebuah instalasi bunyi interaktif yang mengubah hentakan kaki pengunjung menjadi ritme kolektif dari material rumah tangga sehari-hari, tanpa satu pemain utama. Senada dengan itu, M. Nashrul Rizqil Akbar meraih Judge's Award Kategori Pelajar lewat Tjap TANGGOEH, sebuah lukisan di atas karung goni berisi padi yang mempertanyakan siapa berhak disebut tangguh, lalu meruntuhkan hierarki itu: jika tolok ukur ketangguhan adalah bertahan hidup, maka setiap pekerja adalah sosok tangguh. Melengkapi keduanya, Nadiva Nuriftitah meraih President Director's Award Kategori Pelajar lewat The Doorframe, sebuah karya gambar kusen pintu tua yang menyimpan lapisan waktu, tanda tinggi badan anak, bekas bingkai foto, retak yang pernah diperbaiki, sebagai metafora ambang yang harus dilewati setiap kali hidup berubah. Ketiga karya ini adalah pengingat bahwa ketahanan tumbuh melalui partisipasi bersama di ruang publik, solidaritas antarpekerja, serta cinta dan kenangan yang terus dibawa.

Meski berangkat dari medium dan pengalaman yang berbeda, ketujuh karya pemenang ini bertemu pada satu titik yang sama: mereka menolak menghadirkan ketahanan sebagai citra yang selalu gagah. Sebaliknya, mereka memilih menunjukkan ketahanan sebagai proses yang sering tidak terlihat dan tetap berjalan meski tidak selalu diberi nama.

Karya-karya ini bukanlah jawaban, tetapi lebih tepatnya dimaknai sebagai celah tempat cahaya yang masih sanggup menyelinap masuk meski keadaan di sekelilingnya belum tentu membaik. Mereka tidak menjanjikan bahwa akan menuntaskan apa yang sedang dihadapi bersama.

Namun, karya-karya ini menawarkan sesuatu yang lebih sederhana tetapi tidak kalah penting: sebuah alasan untuk tetap melangkah, meski tanpa kepastian.

Kami terus percaya pada kompetisi seperti ini sebagai ruang bagi seni untuk menghadirkan cara pandang yang berbeda terhadap berbagai pengalaman dan persoalan.

Kami terus percaya pada kompetisi seperti ini sebagai ruang bagi seni untuk menghadirkan cara pandang yang berbeda terhadap berbagai pengalaman dan persoalan. Melalui karya-karya talenta lokal, mengingatkan kami bahwa ketangguhan bukan soal menemukan jawaban yang pasti, tapi soal keberanian untuk terus mencari cara pandang baru di tengah pusaran ketaktentuan.

Kami mengucapkan terima kasih kepada MR.D.I.Y. Indonesia atas kesempatan ini dan juga selamat kepada para seniman pemenang. Selamat atas langkah selanjutnya untuk mewakili Indonesia di MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 dan bersanding dengan para seniman dari Malaysia dan Thailand.

Jakarta, 14 Agustus 2026
Abigail Hakim, Mitha Budhyarto, RE Hartanto, dan Edwin Cheah
Dewan Juri MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026